Minggu, 05 Juli 2009

MENGGELEDAH DEMOKRASI BANGSA KITA DAN PERILAKU ANGGOTA DPR

Dalam bahasa latin “poli” artinya banyak dan “tics” artinya “serangga penghisap darah”. Mereka secara diam-diam bergentayangan di antara manusia untuk mencuri peluang menggigit sekaligus menghisap darah setiap makhluk lain yang ada di sekitarnya, termasuk darah manusia. Dan, politisi adalah salah satu profesi tertua di dunia selain pelacur. Politisi adalah sebuah pekerjaan yang amat mulia karena bertujuan menyejahterakan kehidupan rakyat. Para politisilah yang mendirikan partai-partai politik, menentukan ideologi partai-partai itu, membuat serta menegakkan aturan partai, mengumpulkan sebanyak-banyaknya pendukung, memenangi pemilihan umum, dan bekerja keras untuk mengejar cita-cita masig-masing lewat berbagai lembaga, termasuk legislatif atau parlemen.
Parlemen merupakan perwakilan kehendak setiap kalangan masyarakat. Anggota parlemen terhormat dipilih oleh rakyat, bekerja untuk rakyat, dan bertanggung jawab kepada rakyat. Akan tetapi, demokrasi seringkali justru berhenti total ketika segenap aspirasi rakyat itu disalurkan lewat parlemen. Inilah salah satu ironi demokrasi yang telah diwacanakan sejak dahulu oleh filsuf Yunani Socrates atau dictator Italia Benito Mussolini. Rakyat tidak bisa lagi berharap banyak kepada parlemen ketika politisi-politisi pilihannya sudah mengenakan baju kekuasaannya. Rakyat hanya membutuhkan lima menit untuk mencoblos di tempat pemungutan suara untuk memilih politisi pilihannya untuk masa kerja lima tahun.
Rakyat Indonesia untuk pertama kalinya memilih anggota-anggota parlemen dalam Pemilu 1955 ketika usia republik masih 10 tahun. Pemilu tersebut dikenang sebagai penyelenggaraan demokrasi yang diselenggarakan secara terbuka, jujur, dan adil. Namun, Bung Karno ingkar janji karena gagal menyelenggarakan pemilu ketika ia memberlakukan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pemilu 1971 sudah tidak lagi terselenggara dengan terbuka, jujur, dan adil karena diberlakukannya kecurangan secara sistematis oleh rezim Orde Baru yang mengandalkan sokongan politik ABG (ABRI, Birokrasi dan Golkar).

DPR tak lebih dari sekedar stempel yang selama bertahun-tahun mengesahkan kekuasan otoriter Presiden Soeharto tanpa pernah bersikap kritis. Para anggota DPR miskin gagasan. Mereka tidak cukup kreatif dan hanya sibuk dengan urusan-urusan yang tidak perlu untuk bertahan di DPR.
DPR yang membudayakan kultur masih berlangsung sampai era “Orde Reformasi” sekarang ini. Perilaku anggota DPR semakin seronok, misalnya terlibat skandal video mesum. Kini mereka juga rajin memungut “gratifikasi” dan keranjingan studi banding keluar negeri. Salah seorang pelawak andalan srimulat, Gepeng, menyebut pulitik (politik) sebagai akronim dari “ngumpul itik-itik”. Tidaklah mengherankan jika anggota DPR tidak ubahnya bebek-bebek yang senasib sepenanggungan karena selalu bersuara, berenang, dan bebaris bersama-sama sampai mati. Tapi cobalah anda menabrak rombongan bebek yang sedang menyeberangi jalan. Mereka pasti langsung panik, membubarkan diri dan segera kabur menyelamatkan diri masing-masing. Seperti inilah potret sebagian anggota DPR kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar