Blog ini aku terbitkan berawal dari sebuah gelisahan. sepertinya ada ketukan yg memanggil untuk membuka sebuah ruang pemikiran serta berbagi untuk semua.
Selasa, 20 November 2012
Ada Cinta Disana....
Terbangkanlah jiwamu,,,
Meski kedua sayapmu harus terpapah oleh derita cinta….
Tinggalkanlah cinta yang hanya bisa memberimu luka….
Karena itu bukanlah cinta…
Cinta yang agung,,,
Takkan pernah rela membuat sang pemiliknya meneteskan air mata….
Cinta yang agung tak memberikan rasa sakit,,,
derita,,,
dan kegelisahan….
Masih banyak cinta yang akan engkau temui hingga diujung dunia…
Janganlah kau pilih untuk mati ketika harus kehilangan cintanya…
Teriaklah dengan lantang,,,,
Karena sesungguhnya cinta yang agung sedang menantimu disana…..
Arhy Abdy Al-Shihab
Sakit Ini...
Lama rasa ini tertinggal diam,,,
oleh sakit yang kau titipkan yang membuat mati segalanya….
Perlahan kau coba hadir meski bukan sesuatu yang sempurna lagi,
Memberi penawar sakit yang dulu,…
Ku tak yakin ini kamu,,,
ini isi hatimu,,,
karena sakitku masih enggan untuk mengenalmu….
Arhy Abdy Al-Shihab
Aku Pelangimu....
Lihatlah warna pelangi itu,,,
indah setelah hujan berlalu……
Begitupun hati akan merasakan indah...
setelah badai yang menghempas itu berlalu…
jangan buat mentari bersedih,,,
hingga dia tak mau berbagi sinar dengan Bumi oleh kelesuhan wajahmu…..
Tersenyumlah meski luka itu terus menyayat hatimu….
Karena diluar sana banyak yang menanti senyum itu….
Jika tak ada lagi yang menghargaimu…
jangan tambah kesedihanmu…
karena aku disini dengan setia duduk menanti panggilan hatimu…..
Arhy Abdy Al-Shihab
HILANG...
…. Hujan temani kisahku malam itu….
Kisah kesendirian setelah kepergiannya…
Hati tak mengerti tentang kehadiranmu yang begitu indah....
namun hilang tak berbekas….
Kini kau pinta padaku untuk tak mengenalmu,,,,
tak pedulikanmu,,,
tak menghiraukanmu…
Meski ku tahu kau tak sanggup dengan semua itu…..
… ada apa kekasihku….
Kenapa diam yang kau sajikan kepadaku…..
Bicaralah agar seisi dunia mengerti akan inginmu...
dan paham dengan segala sakitmu…..
… jangan takut karna ku selalu ada disampingmu…
mengobati luka-lukamu….
Dan memberi warna dalam kesedihanmu…..
Arhy Abdy Al-Shihab
Minggu, 20 November 2011
KUMPULAN PUISI
.... Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai.... Dan apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak akan ada yang dapat mencabut diriku dari padanya....
... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.... Aku ingin mencintaimu dengan apa adanya... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...
... pabila cinta memanggilmu.... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku.... Dan pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau sebilah pedang tersembunyi di selah sayap itu melukaimu....
.... Jangan menangis kekasihku.... janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan dan duka perpisahan....
Arhy Abdy Al Shihab
.... Kemarin aku sendiri didunia ini, kekasih dan kesendirianku.... sebengis kematian.... Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara, di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian indah yang menyenangkan diatas lidah hari. Dan ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan sekecup ciuman
.... tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan di pisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta.... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan....
... Apabila cinta tidak berhasil... bebaskan dirimu... Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi... Ingatlah... bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya... tapi... ketika cinta itu mati... kamu tidak perlu mati bersamanya....
Arhy Abdy Al Shihab
.... Cinta yang agung adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya... Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia... Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata “Aku turut berbahagia untukmu”....
.... Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang....
Arhy Abdy Al Shihab
PUISI CINTA.....
.... aku tak pernah berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu, karena itu merupakan permintaan yang terlalu berat bagiku... aku hanya berharap suatu saat nanti jika kau melihatku... kau akan berkata “ Dialah orang yang Selalu Menyayangiku”.
... pernah harapan itu ada dan tumbuh kembali, sesaat setelah kau buka diri untukku. Namun kini meredup, bagaikan cahaya mentari yang tertutupi awan hitam. Kini, ku merasa lebih baik jika tidak mengenalmu sama sekali, daripada harus terus terluka oleh harapan-harapan yang semu....
... Kucoba lukiskan indah warna pelangi itu kembali diujung hatimu... berharap cahayanya memberi warna baru serta membuka harapan itu. Memang sangat indah, namun hanya sekejap warna itu berlalu beriringan dengan mendung yang entah darimana datangnya. Kini ku terdiam menatapi gumpalan awan hitam itu yang membawa pergi jauh harapanku. Diam dengan seribu tanya. Mengapa takdirku harus sepahit ini, mencintai dan dicintai namun tak bisa disatukan.
.... lihatlah goresan pena anak kecil itu, tak beraturan. Namun baginya itulah bahagia yang tak terhingga. Seperti hati yang dibalut rasa cinta, juga tak beraturan. Yang kadang mendatangkan bahagia namun juga terkadang derita yang tak berkesudahan....
.... Tuhan, cabutlah aku daripadanya, bersama semua rasaku. Aku ingin melangkah tanpa bayangannya, meski aku akan tertatih dan terjatuh. Tuhan, buang dia dari benakku. Jadikan dia orang terasing dalam hidupku... karena ku tak sanggup terus terluka diatas senyumannya....
... pabila cintaku sesuatu yang hina, mengapa engkau terus menyapaku.... pabila cintaku sesuatu yang tak bernilai, mengapa engkau terus memberiku ruang.... cintaku bukan sebuah pertujukan badut, yang siap untuk ditertawai dan di hina. Aku punya rasa seperti manusia lainnya. Namun aku doakan, agar engkau tak merasakan sakitnya cinta yang ditertawai dan di hina....
.... Indah cintaku tersusun rapi di rak-rak hatiku. Menanti seseorang untuk membukanya kembali, setelah sekian lama terpendam oleh sakit yang digoreskan oleh orang yang tak berhati. Dia kini mencoba datang, membuka perlahan susunan rak-rak itu. Tapi maaf sakitku lebih besar dari cinta yang sebesar dunia yang engkau bawa untukku...
.... pernah kutitipkan cintaku disudut hatimu, mekar serta berbunga. Namun perlahan berguguran setelah kau mengenal dia. Kini ku pergi dengan puing-puing cintaku yang telah berguguran. Tak pernahkah kau sadari akulah yang akau sakiti, engkau pergi dengan seribu janji yang teringkari. Tuhan hapus rasa cintaku untuknya dan buat aku tak mengenalnya....
... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.... Aku ingin mencintaimu dengan apa adanya... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...
... pabila cinta memanggilmu.... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku.... Dan pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau sebilah pedang tersembunyi di selah sayap itu melukaimu....
.... Jangan menangis kekasihku.... janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan dan duka perpisahan....
Arhy Abdy Al Shihab
.... Kemarin aku sendiri didunia ini, kekasih dan kesendirianku.... sebengis kematian.... Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara, di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian indah yang menyenangkan diatas lidah hari. Dan ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan sekecup ciuman
.... tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan di pisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta.... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan....
... Apabila cinta tidak berhasil... bebaskan dirimu... Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi... Ingatlah... bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya... tapi... ketika cinta itu mati... kamu tidak perlu mati bersamanya....
Arhy Abdy Al Shihab
.... Cinta yang agung adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya... Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia... Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata “Aku turut berbahagia untukmu”....
.... Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang....
Arhy Abdy Al Shihab
PUISI CINTA.....
.... aku tak pernah berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu, karena itu merupakan permintaan yang terlalu berat bagiku... aku hanya berharap suatu saat nanti jika kau melihatku... kau akan berkata “ Dialah orang yang Selalu Menyayangiku”.
... pernah harapan itu ada dan tumbuh kembali, sesaat setelah kau buka diri untukku. Namun kini meredup, bagaikan cahaya mentari yang tertutupi awan hitam. Kini, ku merasa lebih baik jika tidak mengenalmu sama sekali, daripada harus terus terluka oleh harapan-harapan yang semu....
... Kucoba lukiskan indah warna pelangi itu kembali diujung hatimu... berharap cahayanya memberi warna baru serta membuka harapan itu. Memang sangat indah, namun hanya sekejap warna itu berlalu beriringan dengan mendung yang entah darimana datangnya. Kini ku terdiam menatapi gumpalan awan hitam itu yang membawa pergi jauh harapanku. Diam dengan seribu tanya. Mengapa takdirku harus sepahit ini, mencintai dan dicintai namun tak bisa disatukan.
.... lihatlah goresan pena anak kecil itu, tak beraturan. Namun baginya itulah bahagia yang tak terhingga. Seperti hati yang dibalut rasa cinta, juga tak beraturan. Yang kadang mendatangkan bahagia namun juga terkadang derita yang tak berkesudahan....
.... Tuhan, cabutlah aku daripadanya, bersama semua rasaku. Aku ingin melangkah tanpa bayangannya, meski aku akan tertatih dan terjatuh. Tuhan, buang dia dari benakku. Jadikan dia orang terasing dalam hidupku... karena ku tak sanggup terus terluka diatas senyumannya....
... pabila cintaku sesuatu yang hina, mengapa engkau terus menyapaku.... pabila cintaku sesuatu yang tak bernilai, mengapa engkau terus memberiku ruang.... cintaku bukan sebuah pertujukan badut, yang siap untuk ditertawai dan di hina. Aku punya rasa seperti manusia lainnya. Namun aku doakan, agar engkau tak merasakan sakitnya cinta yang ditertawai dan di hina....
.... Indah cintaku tersusun rapi di rak-rak hatiku. Menanti seseorang untuk membukanya kembali, setelah sekian lama terpendam oleh sakit yang digoreskan oleh orang yang tak berhati. Dia kini mencoba datang, membuka perlahan susunan rak-rak itu. Tapi maaf sakitku lebih besar dari cinta yang sebesar dunia yang engkau bawa untukku...
.... pernah kutitipkan cintaku disudut hatimu, mekar serta berbunga. Namun perlahan berguguran setelah kau mengenal dia. Kini ku pergi dengan puing-puing cintaku yang telah berguguran. Tak pernahkah kau sadari akulah yang akau sakiti, engkau pergi dengan seribu janji yang teringkari. Tuhan hapus rasa cintaku untuknya dan buat aku tak mengenalnya....
Sabtu, 15 Oktober 2011
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MENGENAI ADMINISTRASI PEMBANGUNAN
A. Pengertian Administrasi dan Pembangunan
Administrasi negara adalah species dari genus administrasi, dan administrasi itu sendiri berada dalam keluarga kegiatan kerjasama antar manusia. Waldo (1992) menyatakan yang membedakan administrasi dengan kegiatan kerjasama antar manusia lainnya adalah derajat rasionalitasnya yang tinggi. Derajat rasionalitas yang tinggi ini ditunjukkan oleh tujuan yang ingin dicapai serta cara untuk mencapainya.
Pengertian pembangunan dapat ditinjau dari berbagai segi. Kata pembangunan secara sederhana sering diartikan sebagai proses perubahan ke arah keadaan yang lebih baik. Seperti dikatakan oleh Seers (1969) disini ada pertimbangan nilai (value judgement). Atau menurut Riggs (1966) ada orientasi nilai yang menguntungkan (favourable value orientation).
Pembangunan sering dikaitkan dengan modernisasi dan industrialisasi. Seperti dikatakan Goulet (1977), ketiga-tiganya menyangkut proses perubahan. Pembangunan adalah salah satu bentuk perubahan sosial, modernisasi adalah suatu bentuk khusus (special case) dari pembangunan. Dari pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa pembangunan lebih luas sifatnya daripada modernisasi dan modernisasi lebih luas daripada industrialisasi.
B. Konsep-konsep Pembangunan
Setelah Adam Smith, Thomas R. Malthus dan David Ricardo yang disebut sebagai aliran klasik, berkembang teori pertumbuhan ekonomi modern dengan bervariasinya. Pada intinya teori ini dibagi menjadi dua, yaitu: 1). Akumulasi modal (physical capital formation); dan 2). Peningkatan kualitas dan investasi sumber daya manusia (human capital). Salah satu dampaknya yang besar dan berlanjut hingga sekarang adalah model pertumbuhan yang dikembangkan oleh Harrod (1948) dan Domar (1946). Pada intinya, model ini berpijak pada pandangan Keynes (1936) yang menekankan pentingnya aspek permintaan dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu berkembang sebuah model pertumbuhan yang disebut neo klasik. Teori ini mulai memasukkan unsur teknologi yang diyakini akan berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara (Solow, 1957). Dalam teori ini, teknologi dianggap sebagai faktor eksogen yang tersedia untuk dimanfaatkan oleh semua negara di dunia. Dalam perekonomian yang terbuka, dimana semua faktor produksi dapat berpindah secara leluasa dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh setiap nagara, maka pertumbuhan semua negara di dunia akan konvergen, yang berarti kesenjangan akan berkurang.
Dalam kelompok teori ini ada pandangan penting yang dianut oleh pemikir pembangunan, yaitu teori Tahapan Pembangunan. Dua diantara yang penting adalah dari Rostow (1960) dan Chenery-Syrquin (1975). Menurut Rostow, transformasi dari negara terbelakang menjadi negara maju dapat dijelaskan melalui urutan tingkatan atau tahap pembangunan. Rostow mengemukakan 5 tahap yang dilaui oleh suatu negara dalam proses pembangunannya, yaitu tahap traditional society, precondition for growth, the take-off, the drive to maturity, dan the age of hight mass-consumption. Menurut Chenery-Syrquin (1975) yang merupakan pengembangan pemikiran transformasi (konsumsi, produksi dan lapangan kerja), dari perekonomian yang didominasi sektor pertanian menjadi sektor industri dan jasa.
Oleh karena itu, berkembang berbagai pemikiran untuk mencari alternatif lain terhadap paradigma yang semata-mata memberi penekanan kepada pertumbuhan, antara lain berkembang kelompok pemikiran yang disebut paradigma pembanguan sosial, yang tujuannya adalah menyelenggarakan pembangunan yang lebih berkeadilan.
Meskipun pembangunan harus berkeadilan, namun disadari bahwa pertumbuhan tetap penting. Upaya memadukan konsep pertumbuhan dan pemerataan merupakan tantangan yang jawabannya tidak henti-hentinya dicari dalam studi pembangunan. Sebuah model, yang dinamakan pemerataan dengan pertumbuhan atau redistribution with growth (RWG) dikembangkan berdasarkan suatu studi yang disponsori oleh Bank Dunia pada tahun 1974. Ide dasarnya adalah pemerintah harus mempengaruhi pola pembangunan sedemikian rupa sehingga produsen yang berpendapatan rendah akan mendapat kesempatan meningkatkan pendapatan dan secara simultan menerima sumber ekonomi yang diperlukan.
Masih dalam rangka mencari jawaban terhadap tantangan paradigma keadilan dalam pembangunan, berkembang pendekatan kebutuhan dasar manusia atau basic human needs (BHN).
Dalam pembahasan mengenai berbagai paradigma yang mencari jalan kearah pembangunan yang berkeadilan perlu diketengahkan pula teori pembangunan yang berpusat pada rakyat. Era pasca industri menghadapi kondisi-kondisi yang sangat berbeda dari kondisi-kondisi era industri dan menyajikan potensi-potensi baru yang penting guna memanfaatkan pertumbuhan dan kesejahteraan manusia, keadilan, dan kelestarian pembangunan (Korten,1984). Tujuan utamanya adalah pertumbuhan manusia yang didefinisikan sebagai perwujudan yang lebih tinggi dari potensi-potensi manusia. Paradigma ini memberi peran kepada individu tidak sebagai obyek, melainkan sebagai pelaku yang menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Pembangunan yang berpusat pada rakyat menghargai dan mempertimbangkan prakarsa rakyat dan kekhasan setempat.
Paradigma terakhir dalam pembangunan adalah pembangunan manusia. Menurut pendekatan ini, tujuan utama pembangunan adalah menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan masyarakat menikmati kehidupan secara kreatif, sehat dan berumur panjang. Dengan kata lain, tujuan pokok pembangunan adalah memperluas pilihan-pilihan manusia (Ul Haq, 1995).
C. Perkembangan Pemikiran Dalam Ilmu Administrasi Negara
Golembiewski juga mengetengahkan adanya tiga paradigma yaitu, 1) Paradigma Tradisional, 2) Paradigma Sosial Psikologi, 3) Paradigma Kemanusian. Ia mengajukan kritik terhadap paradigma-paradigma tersebut yang banyak kelemahannya dan meramalkan tumbuhnya gejala anti paradigma, ia juga mengetengahkan bahwa yang akan muncul adalah paradigma-paradigma kecil (mini paradigm).
Henry (1995) mengetengahkan 5 paradigma yang berkembang dalam administrasi negara yaitu, 1) Dikotomi politik-administrasi, 2) Prinsip-prinsip administrasi serta tantangan yang timbul dan jawaban terhadap tantangan tersebut, 3) Administrasi Negara sebagai Ilmu Politik, 4) Administrasi Negara sebagai Manajemen, dan 5) Administrasi Negara sebagai Administrasi Negara.
Sementara itu, pendekatan scientific yang dirintis oleh Taylor (1912) pada masa sebelumnya dan diperkuat antara lain oleh Fayol (1916) dan Gulick (1937), mulai memperoleh tandingan dari para teoritis yang mulai menerapkan pendekatan hubungan manusia dan ilmu-ilmu perilaku kedalam teori-teori administrasi dan organisasi. Karya Barnard (1938) yang mengemukakan pandangan mengenai adanya organisasi informal menjadi bahan rujukan yang penting. Sementara Maslow (1943) mengemukakan faktor motivasi dalam organisasi yang tidak semata-mata ekonomi, tetapi juga sosial dan kemanusiaan lainnya.
Upaya pengembangan studi perbandingan administrasi negara dilakukan dengan sungguh-sungguh antara lain dengan dibentuknya Comparative Administration Group (CAG) 1960 oleh pakar administrasi. Dari CAG inilah lahir konsep administrasi pembangunan sebagai bidang kajian baru. Kelahirannya didorong oleh kebutuhan untuk membangun administrasi negara di negara berkembang.
D. Etika Administrasi
Sejak dasawarsa tahun 1970-an, etika administrasi telah menjadi bidang studi yang berkembang pesat dalam ilmu administrasi. Nicholas Henry (1995) berpandangan ada dua perkembangan mengenai etika administrasi yaitu, 1) Tampilnya teori-teori keputusan dimana masalah perilaku manusia menjadi tema sentral dibandingkan dalam pendekatan sebelumnya, seperti rasionalitas dan efisiensi, dan 2) Berkembangnya pandangan-pandangan pembaharuan, yang disebut counterculture critique, termasuk didalamnya kelompok administrasi negara.
Secara garis besar ada dua pendekatan yang dapat diketengahkan untuk mewakili banyak pandangan mengenai administrasi negara yang berkaitan dengan etika, yaitu 1) Pendekatan Teologi, dan 2) Pendekatan Deontologi.
Pertama, pendekatan Teologi berpangkal tolak pada apa yang seharusnya dilakukan oleh administrasi, acuan utamanya adalah nilai kemanfaatan yang akan diperoleh atau dihasilkan, yaitu dilihat dari konsekuensi dari pengambilan keputusan. Dalam konteks ini diukur dari pencapaian sasaran, kebijaksanaan-kebijaksanaan publik (seperti pertumbuhan ekonomi, pelayanan kesehatan, kesempatan untuk mengikuti pendidikan, kualitas hidup), pemenuhan pilihan-pilihan masyarakat atau perwujudan kekuasaan organisasi, bahkan kekuasaan perorangan. Kedua, pendekatan Deontologi berdasar pada prinsip-prinsip moral yang harus ditegakkan karena kebenaran yang ada dalam dirinya, dan tidak terkait dengan akibat dan konsekuensi dari keputusan dan tindakan yang dilakukan. Azasnya bahwa proses administrasi harus berlandaskan pada nilai-nilai moral yang mengikat. Pendekatan ini pun tidak hanya pada satu garisnya. Yang sangat mendasar adalah pandangan yang berbumber dari falsafah Immanuel Kant (1724-1809), yaitu bahwa moral adalah imperative dan kategoris yang tidak membenarkan pelanggaran atasnya untuk tujuan apapun, meskipun karena itu masyarakat dirugikan atau jatuh korban.
Administrasi negara adalah species dari genus administrasi, dan administrasi itu sendiri berada dalam keluarga kegiatan kerjasama antar manusia. Waldo (1992) menyatakan yang membedakan administrasi dengan kegiatan kerjasama antar manusia lainnya adalah derajat rasionalitasnya yang tinggi. Derajat rasionalitas yang tinggi ini ditunjukkan oleh tujuan yang ingin dicapai serta cara untuk mencapainya.
Pengertian pembangunan dapat ditinjau dari berbagai segi. Kata pembangunan secara sederhana sering diartikan sebagai proses perubahan ke arah keadaan yang lebih baik. Seperti dikatakan oleh Seers (1969) disini ada pertimbangan nilai (value judgement). Atau menurut Riggs (1966) ada orientasi nilai yang menguntungkan (favourable value orientation).
Pembangunan sering dikaitkan dengan modernisasi dan industrialisasi. Seperti dikatakan Goulet (1977), ketiga-tiganya menyangkut proses perubahan. Pembangunan adalah salah satu bentuk perubahan sosial, modernisasi adalah suatu bentuk khusus (special case) dari pembangunan. Dari pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa pembangunan lebih luas sifatnya daripada modernisasi dan modernisasi lebih luas daripada industrialisasi.
B. Konsep-konsep Pembangunan
Setelah Adam Smith, Thomas R. Malthus dan David Ricardo yang disebut sebagai aliran klasik, berkembang teori pertumbuhan ekonomi modern dengan bervariasinya. Pada intinya teori ini dibagi menjadi dua, yaitu: 1). Akumulasi modal (physical capital formation); dan 2). Peningkatan kualitas dan investasi sumber daya manusia (human capital). Salah satu dampaknya yang besar dan berlanjut hingga sekarang adalah model pertumbuhan yang dikembangkan oleh Harrod (1948) dan Domar (1946). Pada intinya, model ini berpijak pada pandangan Keynes (1936) yang menekankan pentingnya aspek permintaan dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu berkembang sebuah model pertumbuhan yang disebut neo klasik. Teori ini mulai memasukkan unsur teknologi yang diyakini akan berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara (Solow, 1957). Dalam teori ini, teknologi dianggap sebagai faktor eksogen yang tersedia untuk dimanfaatkan oleh semua negara di dunia. Dalam perekonomian yang terbuka, dimana semua faktor produksi dapat berpindah secara leluasa dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh setiap nagara, maka pertumbuhan semua negara di dunia akan konvergen, yang berarti kesenjangan akan berkurang.
Dalam kelompok teori ini ada pandangan penting yang dianut oleh pemikir pembangunan, yaitu teori Tahapan Pembangunan. Dua diantara yang penting adalah dari Rostow (1960) dan Chenery-Syrquin (1975). Menurut Rostow, transformasi dari negara terbelakang menjadi negara maju dapat dijelaskan melalui urutan tingkatan atau tahap pembangunan. Rostow mengemukakan 5 tahap yang dilaui oleh suatu negara dalam proses pembangunannya, yaitu tahap traditional society, precondition for growth, the take-off, the drive to maturity, dan the age of hight mass-consumption. Menurut Chenery-Syrquin (1975) yang merupakan pengembangan pemikiran transformasi (konsumsi, produksi dan lapangan kerja), dari perekonomian yang didominasi sektor pertanian menjadi sektor industri dan jasa.
Oleh karena itu, berkembang berbagai pemikiran untuk mencari alternatif lain terhadap paradigma yang semata-mata memberi penekanan kepada pertumbuhan, antara lain berkembang kelompok pemikiran yang disebut paradigma pembanguan sosial, yang tujuannya adalah menyelenggarakan pembangunan yang lebih berkeadilan.
Meskipun pembangunan harus berkeadilan, namun disadari bahwa pertumbuhan tetap penting. Upaya memadukan konsep pertumbuhan dan pemerataan merupakan tantangan yang jawabannya tidak henti-hentinya dicari dalam studi pembangunan. Sebuah model, yang dinamakan pemerataan dengan pertumbuhan atau redistribution with growth (RWG) dikembangkan berdasarkan suatu studi yang disponsori oleh Bank Dunia pada tahun 1974. Ide dasarnya adalah pemerintah harus mempengaruhi pola pembangunan sedemikian rupa sehingga produsen yang berpendapatan rendah akan mendapat kesempatan meningkatkan pendapatan dan secara simultan menerima sumber ekonomi yang diperlukan.
Masih dalam rangka mencari jawaban terhadap tantangan paradigma keadilan dalam pembangunan, berkembang pendekatan kebutuhan dasar manusia atau basic human needs (BHN).
Dalam pembahasan mengenai berbagai paradigma yang mencari jalan kearah pembangunan yang berkeadilan perlu diketengahkan pula teori pembangunan yang berpusat pada rakyat. Era pasca industri menghadapi kondisi-kondisi yang sangat berbeda dari kondisi-kondisi era industri dan menyajikan potensi-potensi baru yang penting guna memanfaatkan pertumbuhan dan kesejahteraan manusia, keadilan, dan kelestarian pembangunan (Korten,1984). Tujuan utamanya adalah pertumbuhan manusia yang didefinisikan sebagai perwujudan yang lebih tinggi dari potensi-potensi manusia. Paradigma ini memberi peran kepada individu tidak sebagai obyek, melainkan sebagai pelaku yang menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Pembangunan yang berpusat pada rakyat menghargai dan mempertimbangkan prakarsa rakyat dan kekhasan setempat.
Paradigma terakhir dalam pembangunan adalah pembangunan manusia. Menurut pendekatan ini, tujuan utama pembangunan adalah menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan masyarakat menikmati kehidupan secara kreatif, sehat dan berumur panjang. Dengan kata lain, tujuan pokok pembangunan adalah memperluas pilihan-pilihan manusia (Ul Haq, 1995).
C. Perkembangan Pemikiran Dalam Ilmu Administrasi Negara
Golembiewski juga mengetengahkan adanya tiga paradigma yaitu, 1) Paradigma Tradisional, 2) Paradigma Sosial Psikologi, 3) Paradigma Kemanusian. Ia mengajukan kritik terhadap paradigma-paradigma tersebut yang banyak kelemahannya dan meramalkan tumbuhnya gejala anti paradigma, ia juga mengetengahkan bahwa yang akan muncul adalah paradigma-paradigma kecil (mini paradigm).
Henry (1995) mengetengahkan 5 paradigma yang berkembang dalam administrasi negara yaitu, 1) Dikotomi politik-administrasi, 2) Prinsip-prinsip administrasi serta tantangan yang timbul dan jawaban terhadap tantangan tersebut, 3) Administrasi Negara sebagai Ilmu Politik, 4) Administrasi Negara sebagai Manajemen, dan 5) Administrasi Negara sebagai Administrasi Negara.
Sementara itu, pendekatan scientific yang dirintis oleh Taylor (1912) pada masa sebelumnya dan diperkuat antara lain oleh Fayol (1916) dan Gulick (1937), mulai memperoleh tandingan dari para teoritis yang mulai menerapkan pendekatan hubungan manusia dan ilmu-ilmu perilaku kedalam teori-teori administrasi dan organisasi. Karya Barnard (1938) yang mengemukakan pandangan mengenai adanya organisasi informal menjadi bahan rujukan yang penting. Sementara Maslow (1943) mengemukakan faktor motivasi dalam organisasi yang tidak semata-mata ekonomi, tetapi juga sosial dan kemanusiaan lainnya.
Upaya pengembangan studi perbandingan administrasi negara dilakukan dengan sungguh-sungguh antara lain dengan dibentuknya Comparative Administration Group (CAG) 1960 oleh pakar administrasi. Dari CAG inilah lahir konsep administrasi pembangunan sebagai bidang kajian baru. Kelahirannya didorong oleh kebutuhan untuk membangun administrasi negara di negara berkembang.
D. Etika Administrasi
Sejak dasawarsa tahun 1970-an, etika administrasi telah menjadi bidang studi yang berkembang pesat dalam ilmu administrasi. Nicholas Henry (1995) berpandangan ada dua perkembangan mengenai etika administrasi yaitu, 1) Tampilnya teori-teori keputusan dimana masalah perilaku manusia menjadi tema sentral dibandingkan dalam pendekatan sebelumnya, seperti rasionalitas dan efisiensi, dan 2) Berkembangnya pandangan-pandangan pembaharuan, yang disebut counterculture critique, termasuk didalamnya kelompok administrasi negara.
Secara garis besar ada dua pendekatan yang dapat diketengahkan untuk mewakili banyak pandangan mengenai administrasi negara yang berkaitan dengan etika, yaitu 1) Pendekatan Teologi, dan 2) Pendekatan Deontologi.
Pertama, pendekatan Teologi berpangkal tolak pada apa yang seharusnya dilakukan oleh administrasi, acuan utamanya adalah nilai kemanfaatan yang akan diperoleh atau dihasilkan, yaitu dilihat dari konsekuensi dari pengambilan keputusan. Dalam konteks ini diukur dari pencapaian sasaran, kebijaksanaan-kebijaksanaan publik (seperti pertumbuhan ekonomi, pelayanan kesehatan, kesempatan untuk mengikuti pendidikan, kualitas hidup), pemenuhan pilihan-pilihan masyarakat atau perwujudan kekuasaan organisasi, bahkan kekuasaan perorangan. Kedua, pendekatan Deontologi berdasar pada prinsip-prinsip moral yang harus ditegakkan karena kebenaran yang ada dalam dirinya, dan tidak terkait dengan akibat dan konsekuensi dari keputusan dan tindakan yang dilakukan. Azasnya bahwa proses administrasi harus berlandaskan pada nilai-nilai moral yang mengikat. Pendekatan ini pun tidak hanya pada satu garisnya. Yang sangat mendasar adalah pandangan yang berbumber dari falsafah Immanuel Kant (1724-1809), yaitu bahwa moral adalah imperative dan kategoris yang tidak membenarkan pelanggaran atasnya untuk tujuan apapun, meskipun karena itu masyarakat dirugikan atau jatuh korban.
PEMBANGUNAN ADMINISTRASI
A. Keadaan Administrasi di Negara Berkembang
Tingkat perkembangan administrasi di negara-negara berkembang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat disebut sebagai lingkungan administrasi. Lingkungan administrasi meliputi kondisi negara dan bangsa yang bersangkutan di bidang politik, ekonomi, dan sosial.
Di bidang politik, lingkungan administrasi meliputi sistem politik yang dianut, keterkaitan antara administrasi dengan pemegang kedaulatan dan kekuatan-kekuatan politik, partisipasi masyarakat dalam proses politik, derajat keterbukaan dan kebebasan mengeluarkan pendapat dan berserikat, kedudukan dan kekuatan hukum, serta perkembangan budaya dan kelembagaan politik pada umumnya.
Di bidang ekonomi, tercermin dalam sistem ekonomi yang dianut, apakah ekonomi terbuka atau tertutup, ekonomi pasar atau ekonomi yang didominasi oleh pemerintah; tingkat perkembangan ekonomi diukur dari tingkat pendapatan atau perkembangan struktur produksi dan ketenagakerjaan, tingkat pertumbuhan, kemantapan atau stabilitas ekonomi; serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di bidang sosial, banyak indikator yang telah dikembangkan di bidang pendidikan, seperti tingkat melek huruf dan partisipasi pendidikan di berbagai jenjang pendidikan; di bidang kesehatan, seperti usia harapan hidup, tingkat mortalitas ibu yang melahirkan atau bayi yang dilahirkan, derajat gizi masyarakat; kehidupan keagamaan; di bidang kependudukan seperti pertambahan penduduk dan distribusi kependudukan menurut berbagai ukuran antara lain gender, spasial, usia, dan sebagainya; perkembangan kelembagaan sosial budaya; serta aspek-aspek sosial budaya lain yang luas seperti nilai-nilai budaya tradisional dan modern, antara lain sikap terhadap (etos) kerja, kedisiplinan, dan lain sebagainya.
Menurut Heady (1995), untuk kepentingan kajian mengenai pembangunan administrasi ada baiknya dipelajari gambaran wajah administrasi yang bersifat umum (common) di negara nerkembang. Ia menunjukkan ada lima ciri administrasi yang indikasinya diketemukan secara umum di banyak negara berkembang, yaitu:
• Pola dasar administrasi publik atau administrasi negara bersifat jiplakan (imitative) daripada asli (indigenous). Negara-negara berkembang, baik negara yang pernah dijajah bangsa Barat maupun tidak, cenderung meniru sistem administrasi barat.
• Birokrasi di negara berkembang kekurangan sumber daya manusia terampil untuk menyelenggarakan pembangunan. Kekurangan ini bukan dalam arti jumlah tetapi kualitas. Dalam jumlah justru sebaliknya, birokrasi dinegara berkembang mengerjakan orang lebih dari yang diperlukan (overstaffed).
• Birokrasi lebih berorientasi kepada hal-hal lain daripada mengarah kepada yang benar-benar menghasilkan (production directed). Dengan kata lain, birokrat lebih berusaha mewujudkan tujuan pribadinya dibanding pencapaian sasaran-sasaran program.
• Adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang dinyatakan atau yang hendak ditampilkan dengan kenyataan (discrepency between form and reality). Ia menyebutkan fenomena umum ini sebagai formalisme, yaitu gejala yang lebih berpegang kepada wujud-wujud dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang sesungguhnya terjadi.
• Birokrasi di negara berkembang acap kali bersifat otonom, artinya lepas dari proses politik dan pengawasan masyarakat. Ciri ini merupakan warisan administrasi kolonial yang memerintah secara absolut. Atau sikap feodal dalam zaman kolonial yang terus hidup dan berlanjut setelah merdeka.
Terhadap analisis dari Heady ini dapat ditambahkan dua karakteristik hasil pengamatan Wallis (1989). Pertama di banyak negara berkembang birokrasi sangat birokratik dan bahkan semakin bertambah birokratik. Kedua unsur-unsur non birokratik sangat berpengaruh terhadap birokrasi. Misalnya hubungan keluarga dan hubungan-hubungan promordial lain, seperti suku dan agama, dan keterkaitan politik mempengaruhi birokrasi, yang sangat bertentangan dengan asas birokrasi yang baik.
B. Pembaharuan Administrasi
Keadaan-keadaan seperti tersebut diatas ingin diperbaiki memalui pembangunan administrasi. Riggs (1966) melihat pembaharuan administrasi dari dua sisi, yaitu perubahan struktural dan kinerja (performance). Secara struktural ia menggunakan diferensiasi struktural sebagai salah satu ukuran. Hal ini berdasarkan atas kecenderungan peran-peran yang makin terspesialisasikan (role specialization) dan pembagian pekerjaan (division of labor) yang makin tajam.
Mengenai kinerja, ia menekankan sebagai ukuran bukan hanya kinerja seseorang atau suatu unit, tetapi bagaimana peran dan pengaruhnya kepada kinerja yang lain atau organisasi secara keseluruhan. Ia pula menekankan pentingnya kerjasama dan teamwork, dan membedakan kinerja perorangan (personal performance) dengan kinerja bersama (social performance). Ia juga membedakan antara hasil dengan upaya yang dilakukan. Dalam pembaharuan administrasi, perhatian lebih dicurahkan pada upaya, bukansemata-mata hasil. Dua aspek kinerja yang menjadi ukuran adalah efektifitas dan efisiensi. Efektifitas berkaitan dengan seberapa jauh sasaran telah tercapai, dan efisiensi menunjukkan bagaimana mencapainya, yakni dibandingkan dengan usaha, biaya, atau pengorbanan yang harus dikeluarkan.
Wallis (1989) mengartikan pembaharuan administrasi sebagai induced, permanent improvement in administration. Dari batasan ini ada tiga aspek, yakni:
1. Perubahan harus merupakan perbaikan dari keadaan sebelumnya;
2. Perbaikan diperoleh dengan upaya yang disengaja dan bukan terjadi secara kebetulan atau tanpa usaha;
3. Perbaikan yang terjadi bersifat jangka panjang dan tidak sementara, untuk kemudian kembali lagi ke keadaan semula.
Esmann (1995) dalam sebuah analisis mutakhir menunjukkan bahwa upaya memperbaiki kinerja birokrasi di negara berkembang harus meliputi ketanggapan (responsiveness) terhadap pengawasan politik, efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan efektivitas dalam pemberian pelayanan. Untuk itu, upaya perbaikan meliputi peningkatan keterampilan, penguasaan teknologi informasi dan manajemen finansial, pengaturan dan pengelompokkan kembali fungsi-fungsi, sistem insentif, memanusiakan manajemen dan mendorong partisipasi yang seluas-luasnya dalam pengambilan keputusan, serta cara rekruitmen yang harus lebih bersifat representatif.
Pembaharuan administrasi sebagai lanjutan dari pembangunan administrasi, meliputi strategi-strategi sebagai berikut:
1. Privatisasi dan Ko-produksi
Privatisasi merupakan pergeseran dari usaha yang dilakukan atau dimiliki oleh pemerintah ke swasta. Sebagai hasilnya akan berkurang kecenderungan membesarnya peran pemerintah, pengendalian negara (state control) dan anggaran pemerintah. Selain itu juga akan mengurangi beban pemerintah terhadap aspek-aspek manajemen yang terlalu rinci (mikro) dan mengurangi keperluan subsidi.
2. Debirokratisasi
Debirokratisasi merupakan usaha perampingan dan penyederhanaan birokrasi publik. Ini meliputi upaya penyempurnaan dalam pengambilan keputusan, perampingan organisasi pemerintah, dekonsentrasi kewenangan, peningkatan produktivitas sektor publik, rasionalisasi proses administrasi, penyederhanaan pola perijinan (seperti one stop service), diversifikasi dan desentralisasi sistem pelayanan dan sebagainya.
3. Perubahan sikap birokrasi
Patologi birokrasi di negara berkembang biasanya memiliki kecenderungan mengutamakan kepentingan sendiri (self-serving), mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan, terpusat (centralized), dan sering kali menggunakan kewenangannya untuk kepentingan sendiri. oleh karena itu, penyempurnaan aparatur negara mutlak perlu dilakukan dengan mengubah sikap birokrasi. Sosok birokrasi yang diinginkan adalah membangun partisipasi masyarakat, berorientasi kepada yang lemah dan kurang berdaya (the under previlege), lebih bersifat mengarahkan dan memberdayakan, serta mengembangkan keterbukaan dan kebertanggungjawaban.
4. Deregulasi dan Regulasi
Deregulasi dimaksudkan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi, sedangkan Regulasi dimaksudkan untuk melindungi dan memberi kesempatan bagi pihak yang lemah dan tertinggal untuk tumbuh.
C. Hambatan Terhadap Pembaharuan
Wallis (1989) menunjukkan berbagai kesulitan dalam upaya pembaharuan administrasi, antara lain disebabkan:
1. Kurangnya kesadaran atau pengetahuan mengenai betapa buruknya kinerja administrasi atau bagaimana perbaikan yang harus dilakukan.
2. Perubahan yang diperlukan untuk perbaikan mendapat tantangan dari birokrat yang sudah mapan dan ingin mempertahankan kemapanannya.
3. Saran, rencana atau program penyempurnaan administrasi acap kali terlalu umum, kabur dan tidak jelas, serta sulit diterapkan secara kongkrit.
4. Terkait dengan hal itu, mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas perubahan tidak terlalu memahami apa yang sedang terjadi atau apa yang harus dilakukan.
5. Kegagalan sebelumnya menyebabkan keputus asaan atau sikap acuh tak acuh, karena menganggap apa pun yang diusahakan tidak akan berhasil.
Tingkat perkembangan administrasi di negara-negara berkembang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat disebut sebagai lingkungan administrasi. Lingkungan administrasi meliputi kondisi negara dan bangsa yang bersangkutan di bidang politik, ekonomi, dan sosial.
Di bidang politik, lingkungan administrasi meliputi sistem politik yang dianut, keterkaitan antara administrasi dengan pemegang kedaulatan dan kekuatan-kekuatan politik, partisipasi masyarakat dalam proses politik, derajat keterbukaan dan kebebasan mengeluarkan pendapat dan berserikat, kedudukan dan kekuatan hukum, serta perkembangan budaya dan kelembagaan politik pada umumnya.
Di bidang ekonomi, tercermin dalam sistem ekonomi yang dianut, apakah ekonomi terbuka atau tertutup, ekonomi pasar atau ekonomi yang didominasi oleh pemerintah; tingkat perkembangan ekonomi diukur dari tingkat pendapatan atau perkembangan struktur produksi dan ketenagakerjaan, tingkat pertumbuhan, kemantapan atau stabilitas ekonomi; serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di bidang sosial, banyak indikator yang telah dikembangkan di bidang pendidikan, seperti tingkat melek huruf dan partisipasi pendidikan di berbagai jenjang pendidikan; di bidang kesehatan, seperti usia harapan hidup, tingkat mortalitas ibu yang melahirkan atau bayi yang dilahirkan, derajat gizi masyarakat; kehidupan keagamaan; di bidang kependudukan seperti pertambahan penduduk dan distribusi kependudukan menurut berbagai ukuran antara lain gender, spasial, usia, dan sebagainya; perkembangan kelembagaan sosial budaya; serta aspek-aspek sosial budaya lain yang luas seperti nilai-nilai budaya tradisional dan modern, antara lain sikap terhadap (etos) kerja, kedisiplinan, dan lain sebagainya.
Menurut Heady (1995), untuk kepentingan kajian mengenai pembangunan administrasi ada baiknya dipelajari gambaran wajah administrasi yang bersifat umum (common) di negara nerkembang. Ia menunjukkan ada lima ciri administrasi yang indikasinya diketemukan secara umum di banyak negara berkembang, yaitu:
• Pola dasar administrasi publik atau administrasi negara bersifat jiplakan (imitative) daripada asli (indigenous). Negara-negara berkembang, baik negara yang pernah dijajah bangsa Barat maupun tidak, cenderung meniru sistem administrasi barat.
• Birokrasi di negara berkembang kekurangan sumber daya manusia terampil untuk menyelenggarakan pembangunan. Kekurangan ini bukan dalam arti jumlah tetapi kualitas. Dalam jumlah justru sebaliknya, birokrasi dinegara berkembang mengerjakan orang lebih dari yang diperlukan (overstaffed).
• Birokrasi lebih berorientasi kepada hal-hal lain daripada mengarah kepada yang benar-benar menghasilkan (production directed). Dengan kata lain, birokrat lebih berusaha mewujudkan tujuan pribadinya dibanding pencapaian sasaran-sasaran program.
• Adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang dinyatakan atau yang hendak ditampilkan dengan kenyataan (discrepency between form and reality). Ia menyebutkan fenomena umum ini sebagai formalisme, yaitu gejala yang lebih berpegang kepada wujud-wujud dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang sesungguhnya terjadi.
• Birokrasi di negara berkembang acap kali bersifat otonom, artinya lepas dari proses politik dan pengawasan masyarakat. Ciri ini merupakan warisan administrasi kolonial yang memerintah secara absolut. Atau sikap feodal dalam zaman kolonial yang terus hidup dan berlanjut setelah merdeka.
Terhadap analisis dari Heady ini dapat ditambahkan dua karakteristik hasil pengamatan Wallis (1989). Pertama di banyak negara berkembang birokrasi sangat birokratik dan bahkan semakin bertambah birokratik. Kedua unsur-unsur non birokratik sangat berpengaruh terhadap birokrasi. Misalnya hubungan keluarga dan hubungan-hubungan promordial lain, seperti suku dan agama, dan keterkaitan politik mempengaruhi birokrasi, yang sangat bertentangan dengan asas birokrasi yang baik.
B. Pembaharuan Administrasi
Keadaan-keadaan seperti tersebut diatas ingin diperbaiki memalui pembangunan administrasi. Riggs (1966) melihat pembaharuan administrasi dari dua sisi, yaitu perubahan struktural dan kinerja (performance). Secara struktural ia menggunakan diferensiasi struktural sebagai salah satu ukuran. Hal ini berdasarkan atas kecenderungan peran-peran yang makin terspesialisasikan (role specialization) dan pembagian pekerjaan (division of labor) yang makin tajam.
Mengenai kinerja, ia menekankan sebagai ukuran bukan hanya kinerja seseorang atau suatu unit, tetapi bagaimana peran dan pengaruhnya kepada kinerja yang lain atau organisasi secara keseluruhan. Ia pula menekankan pentingnya kerjasama dan teamwork, dan membedakan kinerja perorangan (personal performance) dengan kinerja bersama (social performance). Ia juga membedakan antara hasil dengan upaya yang dilakukan. Dalam pembaharuan administrasi, perhatian lebih dicurahkan pada upaya, bukansemata-mata hasil. Dua aspek kinerja yang menjadi ukuran adalah efektifitas dan efisiensi. Efektifitas berkaitan dengan seberapa jauh sasaran telah tercapai, dan efisiensi menunjukkan bagaimana mencapainya, yakni dibandingkan dengan usaha, biaya, atau pengorbanan yang harus dikeluarkan.
Wallis (1989) mengartikan pembaharuan administrasi sebagai induced, permanent improvement in administration. Dari batasan ini ada tiga aspek, yakni:
1. Perubahan harus merupakan perbaikan dari keadaan sebelumnya;
2. Perbaikan diperoleh dengan upaya yang disengaja dan bukan terjadi secara kebetulan atau tanpa usaha;
3. Perbaikan yang terjadi bersifat jangka panjang dan tidak sementara, untuk kemudian kembali lagi ke keadaan semula.
Esmann (1995) dalam sebuah analisis mutakhir menunjukkan bahwa upaya memperbaiki kinerja birokrasi di negara berkembang harus meliputi ketanggapan (responsiveness) terhadap pengawasan politik, efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan efektivitas dalam pemberian pelayanan. Untuk itu, upaya perbaikan meliputi peningkatan keterampilan, penguasaan teknologi informasi dan manajemen finansial, pengaturan dan pengelompokkan kembali fungsi-fungsi, sistem insentif, memanusiakan manajemen dan mendorong partisipasi yang seluas-luasnya dalam pengambilan keputusan, serta cara rekruitmen yang harus lebih bersifat representatif.
Pembaharuan administrasi sebagai lanjutan dari pembangunan administrasi, meliputi strategi-strategi sebagai berikut:
1. Privatisasi dan Ko-produksi
Privatisasi merupakan pergeseran dari usaha yang dilakukan atau dimiliki oleh pemerintah ke swasta. Sebagai hasilnya akan berkurang kecenderungan membesarnya peran pemerintah, pengendalian negara (state control) dan anggaran pemerintah. Selain itu juga akan mengurangi beban pemerintah terhadap aspek-aspek manajemen yang terlalu rinci (mikro) dan mengurangi keperluan subsidi.
2. Debirokratisasi
Debirokratisasi merupakan usaha perampingan dan penyederhanaan birokrasi publik. Ini meliputi upaya penyempurnaan dalam pengambilan keputusan, perampingan organisasi pemerintah, dekonsentrasi kewenangan, peningkatan produktivitas sektor publik, rasionalisasi proses administrasi, penyederhanaan pola perijinan (seperti one stop service), diversifikasi dan desentralisasi sistem pelayanan dan sebagainya.
3. Perubahan sikap birokrasi
Patologi birokrasi di negara berkembang biasanya memiliki kecenderungan mengutamakan kepentingan sendiri (self-serving), mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan, terpusat (centralized), dan sering kali menggunakan kewenangannya untuk kepentingan sendiri. oleh karena itu, penyempurnaan aparatur negara mutlak perlu dilakukan dengan mengubah sikap birokrasi. Sosok birokrasi yang diinginkan adalah membangun partisipasi masyarakat, berorientasi kepada yang lemah dan kurang berdaya (the under previlege), lebih bersifat mengarahkan dan memberdayakan, serta mengembangkan keterbukaan dan kebertanggungjawaban.
4. Deregulasi dan Regulasi
Deregulasi dimaksudkan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi, sedangkan Regulasi dimaksudkan untuk melindungi dan memberi kesempatan bagi pihak yang lemah dan tertinggal untuk tumbuh.
C. Hambatan Terhadap Pembaharuan
Wallis (1989) menunjukkan berbagai kesulitan dalam upaya pembaharuan administrasi, antara lain disebabkan:
1. Kurangnya kesadaran atau pengetahuan mengenai betapa buruknya kinerja administrasi atau bagaimana perbaikan yang harus dilakukan.
2. Perubahan yang diperlukan untuk perbaikan mendapat tantangan dari birokrat yang sudah mapan dan ingin mempertahankan kemapanannya.
3. Saran, rencana atau program penyempurnaan administrasi acap kali terlalu umum, kabur dan tidak jelas, serta sulit diterapkan secara kongkrit.
4. Terkait dengan hal itu, mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas perubahan tidak terlalu memahami apa yang sedang terjadi atau apa yang harus dilakukan.
5. Kegagalan sebelumnya menyebabkan keputus asaan atau sikap acuh tak acuh, karena menganggap apa pun yang diusahakan tidak akan berhasil.
Langganan:
Postingan (Atom)