Senin, 11 Januari 2010

KEMISKINAN DAN KEBIJAKAN BLT

Kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti Inggris dan Amerika Serikat. Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dari indikator ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara saat ini langkah yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis kemiskinan adalah pendekatan pengeluaran.

Kondisi kemiskinan kian hari menjadi sangat fenomenal di Indonesia, karena kemiskinan ini sangatlah berpengaruh besar dalam pertumbuhan serta perkembangan Negara. Kemiskinan tidak hanya terjadi di Negara yang sedang berkembang, namun kemiskinan juga dapat terjadi di Negara yang sudah maju.

Beberapa faktor penyebab timbulnya kemiskinan adalah:
a. Faktor Individual, yaitu disebabkan oleh individu itu sendiri, seperti kemalasan, kebodohan, dll.
b. Faktor struktural, faktor stuktural ini begitu besar mengambil peran
dalam penciptaan kemiskinan, karena meliputi semua orang yang ada di dalamnya. Faktor ini berada di luar diri individu sehingga dalam banyak hal tidak bisa dikendalikan oleh individu tersebut, tetapi sangat mempengaruhi individu tersebut.

Selain itu juga terdapat beberapa penyebab utama dari timbulnya kemiskinan. Penyebab utama dari timbulnya kemiskinan ini adalah:
1. Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan.
2. Terbatasnya akses serta rendahnya mutu pelayanan kesehatan, pendidikan dan sempitnya lapangan pekerjaan.
3. Kurangnya pengawasan dan perlindungan terhadap asset usaha.
4. Kurangnya penyesuaian terhadap gaji/upah dengan pekerjaan yang dilakukan seseorang.
5. Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumber daya alam.
6. Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga.
7. Tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat.

Masalah dan Dampak Kebijakan BLT

Di Indonesia, upaya kepedulian terhadap persoalan kemiskinan, bahkan sudah berlangsung sejak lama, baik pada jaman pemerintahan masa Orde Lama, masa Orde Baru, maupun pada masa pemerintahan di era Reformasi ini. Untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan kemiskinan ini, pemerintahan SBY-JK juga tidak mau ketinggalan. Bukti nyata dari kepedulian pemerintahan SBY-JK adalah terlihat pada program “Bantuan Langsung Tunai” yang selanjutnya ditulis BLT. Hal mana mulai terlaksana melalui ‘Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 2005’, tentang “Bantuan Langsung Tunai kepada rumah tangga-rumah tangga miskin di Indonesia”. Tujuan yang diharapkan melalui kebijakan program ini adalah dapat menjawab persoalan kemiskinan di Indonesia, sebagai akibat dari segenap perubahan yang telah terjadi, baik secara nasional maupun global serta bertujuan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. BLT ini diberikan sebesar Rp. 300.000 / kepala keluarga miskin atau tak mampu. Yang menjadi persoalan adalah siapa yang tergolong keluarga miskin atau tak mampu itu. Untuk menjembatani hal ini, BPS melakukan survei data dan lapangan. Dan akhirnya pengucuran tahap satu BLT dapat dilakukan relatif sesuai dengan jadwalnya.

Ketika pengucuran dana BLT tersebut, muncul permasalahan-permasalahan. Di beberapa daerah terjadi aksi pengrusakan lantaran satu KK mendapat dan KK yang lain tidak. Konflik yang dipicu dari rasa saling iri menghasilkan amukan massa yang cukup dahsyat. Amukan yang dilakukan massa maupun individu membawa korban jiwa dan fisik desa. Sedangkan di sisi lain, pemerintah menggarisbawahi bahwa anomali sosial yang terjadi lebih disebabkan oleh tindakan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan suasana demi meraih keuntungan tertentu.

Pengucuran tahap dua BLT mengambil nama lain, Sumbangan Langsung Tunai (SLT). Perbaikan yang kentara yakni pada mekanisme pengambilannya. Jika BLT dilakukan dan diselenggarakan oleh perangkat desa dan/atau petugas BPS. Maka pada SLT, pemerintah menunjuk Departemen Pos dan Giro untuk memanfaatkan seluruh kantor pos yang tersedia di daerah-daerah sebagai tempat pengambilan. Selain perpindahan tempat, dulunya di balai desa atau kantor kelurahan, pengambil SLT harus juga memiliki surat keterangan khusus tentang status keluarganya. Dan hasilnya cukup menggembirakan, anomali sosial yang terjadi pada BLT tahap satu relatif berkurang pada pengucuran keduanya. Tapi, apakah masalah sudah selesai ketika BLT/SLT tidak bermasalah di masyarakat?

Berkaca pada kebijakan BLT tahun 2005 banyak kelemahan-kelemahan dan masalah-masalah yang akan ditimbulkan oleh kebijakan BLT ini, antara lain :
1. Dengan memberikan bantuan secara tunai dan langsung, sesunggunya pemerintah sedang melatih masyarakatnya untuk bergantung pada pihak yang kuat. Sedangkan proses penggantungan keadaan ini bukanlah hal yang produktif bagi keberdayaan masyarakat.
2. Timbulnya sikap mental masyarakat yang belum mau jujur mengakui tentang keadaan dirinya yang sebenarnya. Dengan kebijakan pengucuran sumbangan uang dalam bentuk tunai, banyak masyarakat yang tadinya mampu beralih ‘profesi’ menjadi orang miskin. Bisa jadi karena ternyata menjadi orang miskin di negara kita cukup menguntungkan.
3. Kebijakan BLT memiliki kecenderungan menjadi pemicu konflik sosial di masyarakat.
4. Validitas data masyarakat miskin yang diragukan sehingga akan berdampak pada ketepatan pemberian dana BLT kepada masyarakat yang berhak.
5. Dari sisi keuangan negara, kebijakan BLT merupakan kebijakan yang bersifat menghambur-hamburkan uang negara karena kebijakan tersebut tidak mampu menyelesaiakan masalah kemiskinan secara berkelanjutan dan tidak mampu menstimulus produktifitas masyarakat miskin. Dalam ranah ini, proyek padat karya dapat dipilih, atau mengalihkannya kepada sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sebagainya.
6. Efektifitas dan efisiensi penggunaan dana BLT yang tidak dapat diukur dan diawasi karena lemahnya fungsi pengawasan pemerintahan terhadap kebijakan tersebut.

Disatu sisi, kebijakan BLT ini mungkin akan memberikan dampak positif bagi masyarakat miskin. Dengan BLT, kenaikan biaya hidup yang diakibatkan oleh kenaikan BBM secara langsung maupun dampak kenaikan harga kebutuhan pokok akibat kenaikan BBM, akan sedikit tertutupi dengan adanya dana “cuma-cuma” yang diberikan oleh pemerintah. Akan tetapi disisi yang lain kebijakan BLT ini memiliki dampak negatif yakni kebijakan ini akan berdampak negatif pada perilaku dan karakter masyarakat. Kebijakan ini sangat riskan menciptakan karakter masyarakat yang salalu dimanja dan menjadi bangsa “peminta-minta”. Selain itu, permasalahan efektifitas dan efisiensi kebijakan ini juga sangat diragukan, apalagi kalau kita melihat bahwa landasan kenaikan BBM adalah kondisi defisit keuangan negara yang semakin membengkak.

Kalau melihat pada dampak yang akan ditimbulkan oleh kebijakan BLT ini, kebijakan BLT tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi masyarakat miskin di Indonesia. Ini disebabkan nominal BLT yang diberikan tidak seimbang dengan kenaikan biaya hidup yang ditanggung oleh masyarakat akibat kenaikan harga BBM. Coba kita bayangkan, kenaikan BBM tersebut akan mendorong kenaikan biaya untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat miskin, mendorong kenaikan biaya input produksi masyarakat miskin yang kebanyakan berada pada sektor pertanian (baik petani maupun nelayan) yang berada di pedesaan. Apabila kita membandingkan total kenaikan biaya hidup (biaya pemenuhan kebutuhan dasar dan input produksi) masyarakat miskin dengan nominal dana BLT yang diberikan, kebijakan ini tidak akan berdampak siginifikan. Apalagi, pemerintah tidak bisa menjamin efesiensi dan efektifitas penggunaan dana BLT yang diberikan kepada masyarakat.

Selain itu, dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan BLT tersebut tidak mampu memberikan dampak positif pada peningkatan produktifitas masyarakat miskin, melainkan kecenderungannya memberikan dampak negatif pada penurunan produktifitas. Kebijakan BLT hanya merupakan kebijakan yang hanya meberikan “ikan” bukan “kail” kepada masyarakat miskin.

Dari sisi politis, kebijakan BLT bukanlah kebijakan pemerintah untuk membantu dan mengangkat masyarakat (meningkatkan derajat kesejahteraan) miskin melainkan hanya sebuah keputusan politik yang berorientasi untuk mepertahankan image pemerintahan di mata masyarakat. Kebijakan politis ini terpaksa diambil oleh pemerintah sehubungan semakin dekatnya jadwal pesta demokrasi pemilu 2009.

Minggu, 13 Desember 2009

KETIKA MAHASISWA BEREBUT RUANG KULIAH

Universitas Muhammadiyah Makassar merupakan salah satu PTS yang saat ini menjadi kebanggaan masyarakat, menjadi PTS favorit dan PTS yang bisa disejajarkan dengan PTN yang ada khususnya di wilayah Sul-Sel. Saat ini Universitas Muhammadiyah Makassar membina kurang lebih sekitar 23 ribu orang mahasiswa dengan berbagai macam jurusan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau biasa disebut FKIP adalah merupakan fakultas terfavorit dan paling banyak diminati. Hampir sebahagian besar orang tua dari calon mahasiswa yang mendaftarkan anaknya di unversitas ini, lebih memilih untuk memasukkan anaknya di FKIPatau jurusan keguruan. Asumsinya bahwa, dengan memilih jurusan keguruan peluang kerja kedepannya akan lebih luas, dunia kerjanya lebih nyata. Tapi bukan berarti, bahwa fakultas-fakultas binaan Universitas Muhammadiyah Makassar yang lainnya sepi akan peminat.

Tahun ajaran 2009-2010 ini, jumlah pendaftar di Unismuh hampir mencapai 12 ribu orang. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Suatu prestasi yang sangat membanggakan, namun disisi lain adalah merupakan tantangan yang sangat besar, terutama dalam hal pelayanan mahasiswa. Dari sekitar 12 ribu pendaftar, sekitar 7 ribu-an yang dinyatakan lulus untuk melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar ini. Tujuh ribu mahasiswa baru, bukanlah angka yang kecil. Sebuah angka yang fenomenal dan butuh kerja keras untuk melakukan pembinaan.

Di sela-sela gembiraan dengan banyaknya jumlah mahasiswa baru yang diterima, muncullah berbagai keresahan dimana-mana, baik dari kalangan pengelola PT dalam hal ini BPH dan jajarannya maupun dari kalangan mahasiswa itu sendiri, baik mahasiswa yang telah lama kuliah maupun yang baru akan memulai aktivitas di dunia kampus. Kondisi yang paling meresahkan adalah terkendalanya kegiatan perkuliahan yang disebabkan oleh suatu permasalahan klasik yaitu terbatasnya ruang-ruang perkuliahan. Kondisi ini dari tahun ke tahun tidak pernah mendapatkan perhatian yang serius dari pimpinan universitas. Ironis memang dan merupakan suatu pertaruhan nama baik, ketika para pimpinan sepakat untuk membuka kerang penerimaan mahasiswa baru dengan jumlah ribuan namun pada sisi lain fasilitas yang telah tersedia dalam kampus sangat-sangat di bawah standar atau dengan kata lain sangat jauh dari harapan. Hal yang paling membingungkan adalah ketika melihat gambar-gambar yang disuguhkan pada lembaran brosur baik brosur Universitas maupun brosus Fakultas. Dalam brosur tersebut, tergambar dengan sangat jelas betapa idealnya dan indahnya kondisi kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Kondisi yang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang harus dirasakan oleh para mahasiswa. Tuntutan akan ruang untuk berekspresi bagi mahasiswa sangat terbatas sekali, jangankan untuk berkreativitas, ruang untuk perkuliahan pun sangat terbatas.

Langkah yang kemudian diambil oleh para pimpinan Universitas yakni melakukan kontrak penyewaan ruang-ruang kelas di salah satu sekolah menengah yang tak jauh dari kampus. Tanpa disadari, para pimpinan telah melakukan sebuah blunder besar, sebuah kesalahan besar. Langkah ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pencitraan lembaga Unismuh selama ini di mata masyarakat. Kondisi ini tak pelak melahirkan suara-suara sumbang di kalangan mahasiswa terutama mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang notabene telah lama berstatus sebagai mahasiswa di kampus ini. Mereka terdepak dari kampusnya sendiri, karena sebuah permasalahan yang seharusnya tidak terjadi. Kembali kepada pencitraan lembaga, kondisi seperti ini sangat merugikan lembaga Universitas Muhammadiyah Makassar. Citra lembaga Unismuh selama ini di mata masyarakat sangat baik, terbukti banyaknya orang tua yang mau mendaftarkan anak-anak mereka di kampus ini. Masyarakat kagum, masyarakat bangga dengan keberhasilan Unismuh sebagai PTS dengan jumlah pendaftar hampir mencapai 12 ribu orang. Namun dengan kondisi ini, sudah pasti para masyarakat akan berpikir lebih selektif untuk mengkuliahkan anak-anaknya di Kampus Unismuh. Mereka akan beranggapan bahwa kampus Unismuh ternyata tidak mampu menyediakan fasilitas belajar bagi anak-anak mereka, yang nantinya akan berdampak pada kualitas SDM yang dimiliki oleh anak-anak mereka.

Langkah ini ternyata tidak serta merta mampu untuk menyelesaikan permasalahan klasik tersebut. Ternyata kondisi di dalam kampus lebih parah lagi. Pengklaiman pemilikan ruangan kuliah menjadi topik hangat yang selalu diperbincangkan dan selalu terdengar riuh di kalangan mahasiswa, kondisi ini terutama terlihat dengan sangat jelas di Gedung F lantai I dan II. Perebutan ruangan kuliah hampir terjadi setiap harinya disetiap jam mata kuliah. Saya sendiri sering mengalami dan merasakan kondisi ini. Ketika kami hendak melakukan proses perkuliahan di dalam ruangan yang telah ditentukan sebelumnya, ternyata ruangan tersebut telah diisi oleh mahasiswa dari jurusan lain. Perasaan kecewa pun tak bisa terhindarkan begitupun perasaan tidak tenang yang dirasakan oleh mahasiswa yang memakai ruangan kami. Mengalah dan pasrah sering kami lakukan, namun terkadang juga dengan sangat terpaksa kami harus mengusir teman-teman mahasiswa yang menggunakan ruangan kami. Memang sangat tidak manusiawi rasanya, namun inilah konsekuensi yang harus diambil dan dijalani. Lambat laun, jika kondisi seperti ini tidak diatasi dengan segera, maka tidak menutup kemungkinan akan timbul gesekan-gesekan dan disintegrasi antar sesama mahasiswa yang berujung pada konflik internal mahasiswa itu sendiri. Atau mungkin akan timbul gerakan-gerakan dari kalangan mahasiswa terhadap kinerja kepemimpinan para birokrat-birokrat kampus. Sebuah kondisi yang sangat tidak diinginkan bersama, namun perlahan itu akan terjadi ketika tidak ada langkah kongkrit dan cepat yang diambil oleh pimpinan Universitas untuk mengatasi masalah ini.

Tahun lalu, telah dibangun dua buah gedung untuk perkuliahan dengan jumlah sekitar 20 ruang kuliah. Gedung yang dibangun secara semi permanen ini hanya memakan waktu sekitar tiga bulan untuk proses pembangunannya. Kondisinya sederhana meskipun agak sempit. Ruang-ruang kuliahnya hanya dibatasi dengan dinding tripleks, sumpek dan panas tidak ada fasilitas kipas angin dan jangan pernah bermimpi untuk merasakan sejuknya hembusan angin dari sebuah AC. Kondisi gedung ini masih sedikit lebih baik ketimbang barak-barak tempat pengungsian korban bencana alam. Namun masih sangat jauh untuk dikatakan layak sebagai tempat perkuliahan.

Inilah kondisi kampus yang kita cintai. Kampus yang membina sekitar 23 ribu mahasiswa dengan kondisi ruangan yang sangat tidak sebanding. Sehingga tak pelak melahirkan sedikit gesekan-gesekan antar sesama mahasiswa dalam hal penggunaan ruangan perkuliahan. Memang suatu hal yang aneh, ketika mahasiswa saling memperebutkan ruangan untuk tempat perkuliahan. Ternyata di kampus ini, bukan hanya kompetisi perebutan ketua-ketua lembaga kemahasiswaan yang terjadi, namun kompetisi perebutan ruangan perkuliahan pun terjadi. Sebuah kompetisi yang aneh, tapi nyata. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sampai kapan kondisi ini akan dirasakan oleh mahasiswa? Seharusnya para pimpinan universitas mengambil langkah antisipasi secepatnya agar kondisi seperti ini tidak terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Pimpinan universitas harus lebih selektif dalam hal menerima calon mahasiswa baru. Sekarang bukan saatnya lagi untuk mengejar kuantitas, namun saatnya untuk meningkatkan kualitas dan salah satu kebutuhan yang mendasar untuk meningkatkan kualitas SDM mahasiswa yaitu menyiapkan sarana dan prasarana perkuliahan dalam hal ini tersedianya ruang-ruang perkuliahan yang refresentatif dan lengkap.

Sebuah harapan besar dari penulis, mudah-mudahan kedepannya nanti kondisi seperti ini tidak ada lagi. Malu rasanya kita berkompetisi dalam hal perebutan tempat perkuliahan. Mohon maaf kepada segenap unsur birokrat kampus, apabila dalam tulisan ini terdapat hal-hal yang tidak berkenan di hati. Namun inilah suara dari kami, inilah yang kami rasakan dan beginilah sesungguhnya kondisi kampus yang kita cintai dan kita banggakan bersama. Terima kasih, semoga tulisan ini bermamfaat.

Minggu, 06 Desember 2009

Melepasmu....Itu Harus.

Telah haramkan mulut ini untuk memanggilnya….
Telah habiskah waktuku untuk bersamanya……
Telah hinakah diri ini untuk ada didekatnya…
Setelah ku tahu dia telah memilih jalannya……

Kumasih ingin mencitainya …
Kumasih ingin didekatnya …
Kumasih ingin bersamanya….
Namun semua telah hina di matanya…..

Lengkap sudah deritaku.…
Ketika engkau lepaskan semuanya…
Setelah engkau menumbuhkan sebuah harapan…….
Kini dengan seenakmu pergi dan tak pernah menoleh ke arahku lagi…..

Pergi darinya adalah pilihan yang berat…….
Namun sepertinya ku harus ……
Mengingat ku tak ada arti apa-apa baginya….
Dan sangat tidak pantas baginya…..

Ku harap dia akan mengerti nantinya…..
Bahwa niatku tulus untuk mencintainya …..
Hingga akhirnya dia pun merasakan apa yg telah aku rasakan…….
Karena terlalu sakit hati ini dengan segala tingkahnya…….

ARHY ABY AL-SHIHAB

Tetap Ku Nanti Bidadari Itu

Telah kugoreskan luka dihatinya lagi…….
Meski tiada maksud untuk itu…….
Telah kuhadirkan sejuta kecewa dalam hidupnya……
Hingga membuat dia tak mampu untuk berbuat apa-apa…….

Ku sadari aku manusia yang tidak tahu diuntung…..
Tidak tahu berterima kasih…..
Dia telah menghadirkan cinta dan asanya hanya buatku seorang……
Tapi kini ku buatnya kecewa………
Meski aku tak tahu apa kesalahanku…..
Karena aku tidak serendah itu…….

Ku hanya bisa menyalahkan diri ini…
Meski akupun tak tahu apa salahku sebenarnya…..
Cerita itu adalah kenangan lama…yang jauh pernah ada sebelum cerita kita…..
Kisah singkat yang tidak melahirkan apa-apa…..
Yang telah berakhir dan tergantikan oleh cerita baru kita…..

Inilah gubahan isi hatiku…….yang terdalam…
Inilah kejujuranku… yang terbaik…….
Yang tanpa skenario sedikit pun…..
Nyata tanpa ada yang tertutupi…..

Kini asa dan harapan itu ditanganmu……
Ku masih ingin berjalan beriringan denganmu…
Karena aku masih tak mampu untuk berjalan sendiri…
Dan tak akan pernah mampu…….
Meski nantinya kau bukan bidadari yang akan memapahku…
ARHY ABY AL-SHIHAB

TELAH JATUH AIR MATA ITU…

Telah kubuat seorang bidadari menangis…
Yang sedikitpun tak ingin aku lakukan…….
Telah kubuat patah sayap-sayap cintanya….
Meski aku pun bingung dengan kesalahanku…..

Mengapa terlalu tega orang-orang untuk menyudutkanku……
Padahal aku tak pernah berbuat dosa kepada mereka…….
Mengapa terlalu tega mereka melemparkan aib dimukaku…..
Padahal aku tak pernah berbuat salah kepada mereka….

Kini kuharus berjuang untuk mendapatkan kembali kasihku…
Kasih yang seharusnya tetap indah hingga saat nanti……
Berseri untuk terus menyejukkan hati ini……..
Yang hilang bersama dengan aib yang dilemparkan kepadaku……

Tuhan, hambamu bersujud dengan penuh kekhusyukan…
Berharap keajaiban dan jalan terbaikmu…….
Tanganku aku tengadahkan meminta kepadamu agar engkau kembalikan dia untukku…..
Buka hatinya, untuk melihat sebuah kebenaran itu…….

Jika engkau berkehendak lain….
Dan menjadikan perpisahan adalah jalan terbaik……
Maka satu pintaku Tuhan………
Persatukan aku dengannya di kehidupan yang akan datang……
Karena cintaku tak pernah mati untuknya……..

ARHY ABY AL-SHIHAB

Karena Ada Cinta Bersama Kita

Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai…
Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku,
karena cinta ialah semua yang dapat kucapai…
Dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…

Pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku…
Dan, pabila sayapnya merangkummu…
Pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…

Jangan menangis, Kekasihku…
Janganlah menangis dan berbahagialah…
Karena kita diikat bersama dalam cinta.
Hanya dengan cinta yang indah…
Kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan….

Ku hanya punya segenggam cinta…
Yang telah kupersembahkan utuh kepadamu…
Tak tersisa lagi untuk siapa-siapa…
Hanya denganmu aku akan berjalan…
Meski jalan yang kita lalui adalah kerikil berduri….takkan terasa…
Karena ada cinta bersama kita….

ARHY ABY AL-SHIHAB

Maafkan Cintaku.......

MAAFKAN CINTAKU…
Maafkan cintaku kalau telah melukaimu….
Karna tingkahku hingga akhirnya air mata itu menetes….
Tak sedikitpun niatku untuk itu….
Karena aku tak berbuat apa-apa….

Retakkah cinta kita kini???
Cinta yang kita rajut dengan penuh pengorbanan…
Tak berartikah kasih sayang ini???
Sehingga kau harus meneteskan air mata
Pada sesuatu yang belum jelas adanya….

Aku tak salah apa-apa….
Aku tak berbuat apa-apa….
Kenapa terlalu dini engkau menyudutkanku….
Bahkan tak memberiku celah untuk bicara….

Kuingin cinta kita yang kita bina bersama…..
Hanya ada kita di dalamnya….
Bukan semua orang karena mereka tidak pantas untuk ada didalamnya….
Mereka tidak tahu sedikitpun tentang kita…

Akan ku kembalikan kepercayaan itu lagi dihatimu…..
Meski ku harus mengarungi samudera……..
Menjelajahi angkasa raya…..biarlah aku rela..
Karena kutak ingin lepas darimu….

Namun ketika dayaku sudah tak mampu untuk berbuat lagi…
Dan dirimu tetap pada keyakinanmu akan kesalahan-kesalahanku….
Dengan hati lapang, ikhlas terima perih yang akan kau goreskan di hati……….

ARHY ABY AL-SHIHAB